Anda, saya, ataupun siapa saja tentu pernah mengalaminya. Dalam merespon sebuah diskusi,
terkadang kita langsung bersikap reaksioner. Tersinggung, mudah marah atau bahkan mengancam. Mengedepankan
emosi daripada meresapi.
Mengedepankan naluri daripada empati. Padahal,
andaikata semua orang bisa memahami satu sama lain. Saling berempati satu sama
lain, niscaya (konflik) itu tidak akan pernah terjadi.
Emosi adalah bagian dari sebuah ekspresi. Emosi
juga bisa saya maknai sebagai wujud dari aktualisasi diri yang "tidak
tuntas" --lebih bersifat negatif. Sama-sama bentuk dari aktualisasi diri,
mungkin hanya berbeda pada tataran proses, dengan orang yang bisa berekspresi menggunakan
opini (wacana). Jadi, ketika seseorang itu emosi dalam berdiskusi, sebenarnya
itu menunjukkan bahwa ada "problem" dengan orang tersebut, yang berkenaan
dalam proses mengartikulasikan dirinya untuk membangun sebuah opini.
Dengan memahami demikian, bagi yang sudah bisa berdiskusi,
beropini, maka seyogyanya dengan sabar bisa memahami orang-orang yang masih
berada dalam tahap (tataran) emosi.